Kamis, 09 Mei 2013

tulisan mengenai seni rupa

JUDUL ARTIKEL DITULIS PADA BAGIAN INI -->
Hindia Molek

Judul kedua karya ini adalah Hindia Molek.. Karya ini bercerita mengenai sudut pandang penulis mengenai hubungan manusia dengan lingkungannya di masa ini, khususnya bagi penulis sendiri.

Deskripsi Karya Instalasi Hindia Molek

 
Gambar 3.1 Hindia Molek”,
Instalasi foto pada dinding (30 buah), 2012.
(Sumber: Dokumentasi Pribadi) Aditya Lingga

Sebuah gambar lanskap pemandangan alam terpecah menjadi bangunan-bangunan kecil tiga dimensi yang bersinar dan menempel pada permukaan dinding selebar 9m x 2,5m. Bangunan tersebut merupakan sebuah bentuk abstrak geometris sekaligus pecahan dari sebuah bidang besar. Pecahan tersebut dipajang membentuk sebuah komposisi tidak beraturan dari sebuah lanskap bergambar pemandangan pegunungan. Setiap pecahan memiliki setidaknya tiga sisi dengan arah yang berbeda, membentuk bangunan tiga dimensi yang berbentuk geometris tidak beraturan. Setiap pecahan memiliki bentuk dan ukuran yang bervariatif, dimulai dengan diameter 10cm sampai dengan 65cm.
Gambar 3.2 Tampak samping karya “Hindia Molek”,
Instalasi foto pada dinding (30 buah), 9 x 3 m, 2012.
(Sumber: Dokumentasi Pribadi) Aditya Lingga
Visual yang terdapat di permukaan pecahan tersebut merupakan sebuah gambar lanskap yang menonjolkan kontur pegunungan yang asri, dipenuhi oleh hamparan hutan rimba yang belum tersentuh oleh tangan manusia. Gambar ini tersebar merata di seluruh permukaan pecahan, menyebabkan gambar tersebut terfragmentasi di permukaan sisi-sisi yang tidak beraturan.
Dalam karya Instalasi ini, penulis ingin memberi penekanan terhadap cara melihat suatu pemandangan dari berbagai sisi. Sebuah gambar dua dimensi yang utuh, terpecah dan diaplikasikan ke dalam bentuk tiga dimensi dengan sisi-sisinya yang tidak beraturan, membuat gambar tersebut tidak lagi sempurna. Gambar tersebut menjadi hancur, namun terdapat unsur kesengajaan dalam penghancuran gambar utama ini.

Deskripsi Karya Hindia Molek dengan Aplikasi pada Bingkai

Gambar 3.3 Bagian dari karya Hindia Molek dengan aplikasi pada Bingkai,
Instalasi resin pada bingkai kaca (5 buah), 42 x 29 cm, 2012.
(Sumber: Dokumentasi Pribadi) Aditya Lingga


Karya ini merupakan perbesaran terhadap pecahan terkecil yang terdapat dalam karya Instalasi. Pecahan terkecil tersebut mengalami transformasi dan duplikasi menjadi komposisi yang terdiri dari pecahan yang lebih kecil lagi. Setiap pecahan merupakan benda padat dan bening yang memiliki gambar pada bagian dasarnya. Gambar tersebut dapat dilihat tembus melalui pecahan-pecahan yang bening tersebut.
Gambar yang ditampilkan dalam karya ini pun merupakan perbesaran dari gambar pemandangan yang terdapat dalam karya instalasi. Bila dalam karya instalasi terdapat gambar lanskap pemandangan, maka dalam karya dua dimensi ini gambar yang ditampilkan adalah still life dari objek-objek yang terdapat dalam pemandangan hamparan hutan sebelumnya.
Terdapat juga perbedaan peletakkan gambar jika dibandingkan dengan karya instalasi sebelumnya. Dalam karya ini, gambar yang dipajang tidak diletakkan di permukaan sisi-sisi pecahan, melainkan di dasar dari pecahan yang padat tersebut.

Interpretasi Karya Hindia Molek

Walaupun memiliki perbedaan medium dan penampilan, pada dasarnya kedua karya memiliki kesamaan dalam bentuk visual, yakni menampilkan bentuk geometris yang tidak merujuk kepada objek apapun.Namun meskipun begitu, keduanya sama-sama memiliki gambar baik di dalam maupun di permukaan bentuk itu sendiri. Gambar tersebut merupakan foto dari pemandangan alam, yang terpecah dan diaplikasikan ke masing-masing bentuk geometris tersebut. Bentuk dirangkai dan dikomposisikan menjadi satu kesatuan gambar yang tidak utuh.
Gagasan utama dari karya ini adalah menampilkan gambaran akan kebutuhan manusia untuk lebih dekat dengan alam sebagai bentuk kesempurnaan dengan segala problematikanya dalam masa kini.
Lanskap alam sendiri mengandung nilai kedamaian dan keharmonisan. Segala unsur alam yang terdapat di dalamnya, mulai dari langit, awan, gunung, hutan, pohon-pohonan dan sungainya, menggambarkan sebuah proses dari aksi-reaksi yang saling berkesinambungan dengan alamiah. Proses ini terus berjalan secara alami, sehingga tercipta keseimbangan alam.
Bidang tiga dimensi dari karya itu sendiri sebenarnya tidak merujuk kepada objek apapun, ia murni merupakan bentuk geometris non-representatif. Meskipun begitu, bentuk-bentuk ini muncul dari imajinasi dan alam bawah sadar penulis sebagai respon dari apa yang ia lihat, dalam hal ini pemandangan alam. Hal yang dilihat penulis dari pemandangan tersebut tidak hanya sampai bentuk fisik yang dikandungnya, tapi juga hubungannya dengan manusia pada masa ini.
Penulis melihat kurangnya hubungan yang berkesinambungan antara manusia dan alam pada hari ini. Dengan kemudahan yang diberikan oleh teknologi dalam era yang global ini, manusia lebih akrab dengan hal-hal yang instan, efisien, dan sederhana. Manusia cenderung berada di dalam zona nyamannya, sehingga pada akhirnya mereka lupa dan kehilangan makna akan proses yang seharusnya terus berjalan dengan seimbang bersamaan dengan kehidupannya.
Manusia kembali dekat dengan alam, namun kehilangan makna yang sesungguhnya. Terjadi kedangkalan dalam pola hidup manusia, dikarenakan banyaknya hal yang harus dipelajari, membludaknya ilmu-ilmu sebagai sebab dari kemajuan teknologi. Manusia memakai dan memanfaatkan alam, namun tidak bekerjasama dengannya. Manusia pergi untuk menikmati pemandangan alam melalui layar dijital, ataupun dengan mencari tempat wisata terdekat yang mengharuskan mereka membayar dengan sejumlah uang. Sistem dan teknologi dirancang untuk memudahkan hidup manusia, namun fungsi utamanya untuk membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik masih menjadi misteri sampai saat ini. Kesemuanya membuat manusia memasuki sebuah “ruang ilusi” yang berisikan keseimbangan hidup seakan-akan “ada” dan nyata di dalam hidup manusia.
Fotografi sebagai media yang dipakai untuk menampilkan gambar pada karya sendiri merupakan suatu sistem berteknologi tinggi yang mampu menampilkankembali pemandangan alam secara akurat, persis sama seperti aslinya. Namun tetap media tersebut tidak dapat menghadirkan suasana yang ada dalam citra tersebut sepenuhnya, sehingga hal ini pun turut menjadi salah satu faktor berkurangnya makna pendekatan manusia terhadap alam sekitarnya.
Perpaduan antara bentuk organis yang terlihat pada visual pemandangan alamdengan bentuk geometris yang ditampilkan pada bentuk karya itu sendiri menggambarkan sebuah penyederhanaan terhadap makna keindahan hubungan antara manusia dengan alam. Dewasa ini, kesulitan yang ditemui oleh manusia bukanlah mengenai ketidakmampuan mereka mencapai target-target tertentu secara fisik, namun rintangan yangsesungguhnya ialah bagaimana cara memilah, mempelajari serta memperdalam segala informasi yang ditemui dengan semaksimal mungkin di era ini.
sumber : kompas (Jurnal Tingkat Sarjana Bidang Seni Rupa)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar